Kuliah Tamu: Rites and Traditions of The PUNAN in Kalimantan

Penulis: Vany Fadhilah, S.T

JATINANGOR, RK.SITH.ITB.AC.ID – Program Studi Rekayasa Kehutanan telah menyelenggarakan kuliah tamu bagi seluruh  mahasiswa Rekayasa Kehutanan pada hari Rabu (18/04/2018) pukul 10.00 WIB – 11.30 WIB bertempat di Gedung Kuliah Umum (GKU 2) ITB Kampus Jatinangor. Acara ini dihadiri oleh sekitar 70 mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITB, mahasiswa S2 Biomanajemen ITB, Ketua Prodi Rekayasa Kehutanan Dr. Elham Sumarga, Direktur French Institute of Indonesia (IFI) Melanie Martini-Mareel bersama staff dan Research  Director of The French National Research Institute for Sustainable Development (IRD) Dr. Edmound Dounias selaku pembicara dalam acara ini.  Kuliah tamu kali ini bertajuk Rites and Traditions of The PUNAN in Kalimantan.

Dr. Edmound Dounias menjelaskan bahwa PUNAN adalah salah satu rumpun suku Dayak di Pulau Borneo. Sebagian besar orang-orang PUNAN tinggal di Kalimantan, sebagian lain di Malaysia, dan sebagian kecil nomaden (berpindah-pindah tempat). Berdasarkan daerah tempat tinggal, orang-orang PUNAN terbagi menjadi dua yaitu PUNAN yang hidup di daerah perkotaan dan daerah terpencil. Mereka memiliki bahasa dan tradisi yang sama namun berbeda dalam hal lingkungan mereka hidup. Mereka yang hidup di daerah terpencil yaitu tinggal di dalam hutan dan sekitar hutan alam Kalimantan. Dibatasi oleh pegunungan dan perbukitan, mereka tidak memiliki akses ke perkotaan, tidak tersentuh oleh infrastruktur pembangunan, seakan terlupakan. Mereka benar-benar bergantung pada sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi. Oleh sebabnya, mereka memiliki taraf kehidupan yang rendah dan tingkat kematian anak-anak yang tinggi.

Lebih lanjut dalam paparannya, Orang PUNAN memanfaatkan produk hutan sebagai sumber pendapatan. Fakta yang menarik adalah orang-orang pemanfaat produk hutan dan tinggal di daerah dekat perkotaan namun tidak terlalu jauh dengan hutan berpendapatan paling tinggi dibandingkan dengan orang yang tinggal di kota maupun orang yang tinggal di dalam hutan itu sendiri. Dengan begitu, ini menjadi salah satu perhatian bagi kita semua.

Selain itu, Dr. Edmound Dounias juga menjelaskan, Kalimantan erat dengan flora Dipterocarpaceae. Waktu berbuah Dipterocarpaceae tidak teratur dan tidak dapat diprediksi. Namun, babi liar (wild boar) dapat mendeteksinya. Babi liar berpindah-pindah dari satu patch ke patch lain untuk mencari Dipterocarpaceae yang sedang berbuah. Babi liar memakan buah Dipterocarpaceae yang baru jatuh ke tanah, jika babi tiba terlambat maka buah tersebut sudah tidak dapat dimakan. Oleh sebabnya, babi liar memiliki kemampuan untuk mendeteksi waktu berubah pada waktu yang tepat. Di sisi lain, banyak kumpulan mamalia yang mengikuti jejak babi tersebut karena mamali-mamalia tersebut dapat memakan biji-biji lain yang terjatuh dari badan babi. Kondisi ini dimanfaatkan oleh orang PUNAN untuk berburu mamalia dan juga sebagai tanda posisi babi liar untuk diburu. Orang PUNAN senang berburu babi liar untuk memenuhi kebutuhan protein mereka. Daging babi diketahui memenuhi 50% kebutuhan protein masyarakat Borneo. Namun kini, babi liar sangat sulit ditemui disebabkan oleh deforestasi yang meningkat di daerah Kalimantan.

Terakhir, Dr. Edmound Dounias menyampaikan bahwa hutan, manusia dan hidupan liar (wild life) tidak dapat dipisahkan. Serta, aspek arkeologi, antropologi, ekologi dan konservasi biologi merupakan satu kesatuan yang perlu dipahami. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi peneliti untuk mengungkap banyak hal proses alam yang masih banyak belum terungkap demi kesejahteraan umat manusia dan lingkungan yang berkelanjutan.

Kuliah tamu ditutup dengan ucapan apresiasi pembicara atas partisipasi aktif mahasiswa, dan apresiasi SITH atas kesediaan Dr. Edmound Dounias sebagai pembicara dan diakhiri dengan foto bersama.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish